{"id":108289,"date":"2012-12-03T12:12:00","date_gmt":"2012-12-03T12:12:00","guid":{"rendered":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/wlc-article\/migrating-mingguan-tujuh-hari-moderen-menelusuri-sejarah-sebuah-kebohongan\/"},"modified":"2025-08-20T15:22:42","modified_gmt":"2025-08-20T15:22:42","slug":"mingguan-tujuh-hari-moderen-menelusuri-sejarah-sebuah-kebohongan","status":"publish","type":"wlc-article","link":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/articles\/kalender-yahs\/mingguan-tujuh-hari-moderen-menelusuri-sejarah-sebuah-kebohongan\/","title":{"rendered":"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan"},"content":{"rendered":"<p>Umat Kristen yang beribadah pada hari Minggu<br \/>\nmelandaskan pelaksanaan ini pada <a href=\"\/yahuwahs-calendar\/kebangkitan-paskah-easter-atau-buah-pertama.html\">keyakinan bahwa Kristus<br \/>\nbangkit dari kubur pada hari Minggu<\/a>. Orang-orang Yahudi dan umat Kristen yang beribadah<br \/>\npada hari Sabtu melakukannya karena itu adalah hari ketujuh dalam sebuah minggu.<br \/>\nKedua belah pihak mendasarkan keyakinan mereka, dan kemudian praktek mereka,<br \/>\npada sebuah <em>dugaan<\/em>. Dugaannya adalah<br \/>\nbahwa karena perkembangan hari tidak berubah pada saat kalender Julian<br \/>\ndialihkan ke kalender Gregorian, maka mingguan moderen tetap sama dengan mingguan<br \/>\nAlkitab. Oleh karena itu, &#8220;kesimpulan logisnya&#8221; adalah hari Sabtu<br \/>\nmemang benar adalah hari Sabat yang Alkitabiah dan hari Minggu adalah hari di<br \/>\nmana Kristus bangkit dari kubur. Namun, fakta-fakta dari kalender Julian itu<br \/>\nsendiri, membuktikan bahwa dugaan ini salah.<\/p>\n<p>Sebuah pepatah terkenal mengatakan bahwa mereka yang<br \/>\nmelupakan sejarah telah ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan sejarah itu.<br \/>\nDemikian juga, orang-orang yang belum pernah belajar fakta-fakta sejarah<br \/>\nkalender telah membangun struktur keyakinan seluruhnya di atas sebuah pondasi<br \/>\nyang salah: dugaan bahwa siklus mingguan telah berlangsung terus menerus dan tidak<br \/>\nperna diinterupsi sejak dari masa Penciptaan. Adalah sangat penting bagi semua<br \/>\norang, apapun agama mereka, untuk mempelajari sejarah kalender Julian.<br \/>\nPerakitan potongan teka-teki yang hilang dari fakta sejarah mengungkapkan kapan<br \/>\nsebuah <a href=\"\/yahuwahs-calendar\/siklus-mingguan-tidak-terputus-terbukti-salah.html\">siklus mingguan tidak<br \/>\nterputus<\/a><br \/>\ntujuh hari menjadi standar pengukuran waktu &#8211; dan itu tidak sama dengan<br \/>\nmingguan pada masa Penciptaan.<\/p>\n<h3>Kalender Julian Ditetapkan<\/h3>\n<p>Kalender Republik Romawi sebelumnya didasarkan pada<br \/>\nfase lunar. Imam Romawi kafir, yang disebut Paus, yang bertanggung jawab untuk<br \/>\nmengatur kalender. Karena Paus juga bisa memegang jabatan politik, jabatan itu<br \/>\nmemberikan peluang untuk disalahgunakan. Meng-interklasi<sup>1<\/sup> sebuah bulan<br \/>\ntambahan dapat membuat seorang politisi yang disenangi menjabat lebih lama, dan<br \/>\nbila diperlukan interklasi dapat tidak dilakukan untuk mempersingkat jabatan lawan<br \/>\npolitik.<\/p>\n<p>Pada masa Julius Caesar, bulan telah benar-benar jauh<br \/>\ndari keselarasannya dengan musim. Julius Caesar menggunakan haknya<sup>2<\/sup> sebagai<br \/>\npontifex maximus<sup>3<\/sup> (imam besar) dan mereformasi apa yang kemudian<br \/>\nmenjadi sebuah kalendar yang rumit dan tidak akurat<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<p class=\"indenttext\">Pada pertengahan abad ke-1 SM Julius Caesar<br \/>\nmengundang Sosigenes, seorang astronom Aleksandria, sebagai penasihatnya untuk<br \/>\nmereformasi kalender, dan Sosigenes memutuskan bahwa satu-satunya langkah<br \/>\npraktis adalah dengan meninggalkan kalender lunar sama sekali. Bulan harus<br \/>\ndiatur berdasarkan musim, dan sebuah tahun tropis (matahari) digunakan, seperti<br \/>\npada kalender Mesir. . . . <sup>5<\/sup><\/p>\n<p>Perhatikan bahwa inovasi besar Sosigenes ini telah<br \/>\nmeninggalkan penanggalan lunar.<\/p>\n<p class=\"indenttext\">Kesulitan besar yang dihadapi setiap pengubah<br \/>\n[kalender] adalah bahwa tampaknya tidak ada cara untuk membuat perubahan<br \/>\nkalender yang masih akan memungkinkan bulanan bulan tetap sejalan dengan fase<br \/>\nBulan [dilangit] dan tahun tetap sejalan dengan musim. Sehingga dipandang perlu<br \/>\nuntuk membatalkan dasar perhitungan tradisional untuk menyusun kalender musiman<br \/>\nyang efisein<sup>6<\/sup>.<\/p>\n<p>Untuk membuat kalender baru itu kembali selaras<br \/>\ndengan musim diperlukan penambahan 90 hari untuk tahun itu, hal ini telah<br \/>\ndilakukan pada tahun 45 SM, membuat sebuah tahun menjadi terdiri dari 445 hari.<br \/>\nTahun dengan 445 hari ini secara kronologi disebut sebagai Tahun Kebingungan,<br \/>\ntetapi oleh Macrobius, lebih tepat disebut, akhir dari tahun kebingungan<sup>7<\/sup>.<br \/>\nPotongan pertama dari teka-teki untuk menyusun kembali kebenaran kalender<br \/>\nadalah bahwa mingguan Julian pada tahun 45 SM, tidak sama dengan mingguan<br \/>\nJulian ketika Paus Gregory XIII memodifikasi kalender itu, dan dengan demikian menjadi<br \/>\ntidak sama dengan mingguan Gregorian pada hari ini. Ini adalah dugaan pertama<br \/>\nyang dipegang oleh baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang Kristen, mengenai<br \/>\nhari di mana mereka beribadah<sup>8<\/sup>.<\/p>\n<p>Kalender Julian, sama seperti kalender sebelumnya<br \/>\ndari Republik itu, awalnya memiliki siklus delapan hari.<\/p>\n<p>Mingguan delapan hari orang-orang Roma dikenal<br \/>\nsebagai internundinum tempus atau &#8220;periode antara hari-kesembilan yang<br \/>\nterkait&#8221;. (Istilah ini harus dipahami dalam konteks praktek matematika<br \/>\nRomawi kuno yang menghitung secara inklusif, dimana hari pertama dari siklus<br \/>\nitu, juga akan dihitung sebagai hari terakhir dari siklus sebelumnya<sup>9<\/sup>).<br \/>\nPutaran &#8220;Hari-kesembilan yang terkait&#8221; setiap minggu ini adalah<br \/>\nnundin\u00e6, hari pasar periodik yang digelar secara rutin setiap delapan hari<sup>10<\/sup>.<\/p>\n<p>Kalender tidak disusun pada jalur seperti pada<br \/>\nkalender moderen, tetapi tanggal dicantumkan dalam kolom-kolom dengan hari-hari<br \/>\npada sebuah minggu dirancang dengan menggunakan huruf A sampai H<sup>11<\/sup>.<br \/>\nSebagai contoh, bulan Januari dimulai dengan hari &#8220;A&#8221; dan akan<br \/>\nberlanjut sampai hari kedelapan pada minggu itu, dan bulan berakhir di hari<br \/>\n&#8220;E&#8221;. Berbeda dengan kalender Ibrani, kalender Romawi memiliki siklus<br \/>\nmingguan yang tidak terputus. Karena bulan Januari berakhir pada hari<br \/>\n&#8220;E&#8221;, maka bulan Februari dimulai pada hari &#8220;F&#8221;. Demikian<br \/>\njuga, bulan Februari akan berakhir pada hari &#8220;A&#8221; maka bulan Maret<br \/>\nakan dimulai pada hari &#8220;B&#8221;:<\/p>\n<blockquote style=\"text-align: justify\" class=\"blue\">\n<table style=\"width: 60%\" border=\"0\" cellpadding=\"5\" cellspacing=\"0\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"width: 20%\">A k<span class=\"hasTip\" title=\" :: Kalend\u00e6: the first day of the month. \"><sup>12<\/sup><\/span> Jan<\/td>\n<td style=\"width: 20%\">F k Feb<\/td>\n<td style=\"width: 20%\">B k Mar<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>B<\/td>\n<td>G<\/td>\n<td>C<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>C<\/td>\n<td>H<\/td>\n<td>D<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>D<\/td>\n<td>A<\/td>\n<td>E<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>E, dst.<\/td>\n<td>B, dst.<\/td>\n<td>F, dst.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/blockquote>\n<p>Berikut ini adalah rekonstruksi<sup>13<\/sup> dari<br \/>\nFasti Antiates, satu-satunya pra-kalender Julian yang dikenal yang masih tetap<br \/>\nada<sup>14<\/sup> yang memiliki tanggal dari tahun 60-an SM ditemukan di lokasi<br \/>\nvilla Nero di Antium.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\" align=\"center\"><img decoding=\"async\" alt=\"pre julian calendar\" src=\"https:\/\/s3.amazonaws.com\/static.worldslastchance.org\/2025\/08\/image002.gif\" border=\"0\"><\/p>\n<p>Kalender ini dilukis di atas plaster dengan huruf A diberi<br \/>\nwarna merah untuk menunjukkan awal pekan. Bulan-bulan tersebut diatur dalam 13<br \/>\nkolom. Bulan Januari, di sebelah kiri, dimulai pada hari &#8220;A&#8221; dan<br \/>\nberakhir pada hari &#8220;E&#8221;. Di bagian bawah setiap kolom ada angka Romawi<br \/>\nbesar yang memberikan jumlah hari pada bulan tersebut. Kolom di ujung kanan<br \/>\nadalah bulan ke-13, bulan kabisat. Huruf tambahan muncul di samping huruf hari.<br \/>\nIni menunjukkan jenis bisnis apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan pada hari<br \/>\nitu.<\/p>\n<p>Semua contoh dari fasti Julian, atau kalender, yang<br \/>\ndiberi tanggal dari zaman Agustus<sup>15<\/sup> (tahun 63 SM &#8211; 14 M) sampai<br \/>\nzaman Tiberius (42 SM &#8211; 37 M). Jika dugaan ini benar bahwa hari Sabtu adalah<br \/>\nhari Sabat yang Alkitabiah karena siklus mingguan tidak terganggu pada waktu perubahan<br \/>\nkalender Julian ke kalender Gregorian, maka hal ini seharusnya dengan mudah<br \/>\ndapat dibuktikan dari kalender Julian mula-mula yang masih ada. Sebuah contoh<br \/>\ndari sebuah kalender Julian ini yang diabadikan pada fragmen batu tersebut dan<br \/>\nmenyediakan potongan teka-teki kedua yang pasti dalam membangun kebenaran<br \/>\nsejarah kalender. Sebuah minggu yang terdiri dari delapan hari ini dengan jelas<br \/>\nterlihat pada fragmen-fragmen batu itu yang membenarkan bahwa mingguan yang<br \/>\nmemiliki delapan hari itu masih digunakan oleh orang-orang Romawi selama dan<br \/>\nsegera setelah kehidupan Kristus.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img decoding=\"async\" alt=\"julian fasti\" src=\"https:\/\/s3.amazonaws.com\/static.worldslastchance.org\/2025\/08\/image004.jpg\" border=\"0\"><\/p>\n<p align=\"center\">Fasti Antiates \u2013 hasil<br \/>\nrekonstruksi dari satu-satunya pra-kalender Julian yang dikenal yang masih ada.<\/p>\n<p>Penting untuk diingat bahwa mingguan Alkitab sebagai<br \/>\nsebuah unit waktu yang ditetapkan di dalam kitab Kejadian pasal 1, hanya terdiri<br \/>\ndari tujuh hari: enam hari kerja diikuti dengan satu hari istirahat yaitu Sabat<br \/>\npada hari terakhir dari sebuah minggu. Siklus delapan hari kalender Julian<br \/>\ntelah digunakan pada zaman Kristus. Namun, Israel tidak akan menguduskan Sabat<br \/>\nhari ketujuh pada siklus mingguan delapan hari kalender Julian. Ini akan<br \/>\nmenjadi berhala bagi mereka. Bahkan ketika mingguan Julian diperpendek menjadi<br \/>\ntujuh hari, itu masih tidak sesuai dengan siklus mingguan dari mingguan Alkitab<br \/>\ndan juga tidak menyerupai mingguan moderen yang digunakan pada saat ini.<\/p>\n<h3>Mingguan Planetari Tujuh Hari<\/h3>\n<p>Penghentian penggunaan mingguan delapan hari Romawi<br \/>\ndisebabkan oleh dua faktor: A) perluasan kerajaan Romawi<sup>16<\/sup> yang membuat<br \/>\norang-orang Roma mengenal agama-agama lain dan memimpin pada gilirannya, ke B)<br \/>\nmunculnya aliran Mithras<sup>17<\/sup>. Peran agama Mithrais dimainkan dalam penyusunan<br \/>\nulang mingguan Julian sangat signifikan karena agama ini adalah pesaing kuat<br \/>\ndari Kekristenan mula-mula<sup>18<\/sup>.<\/p>\n<p>Tampaknya bila beberapa orang rohani yang jenius<br \/>\nmemiliki kontrol atas dunia kafir telah memerintahkan hal-hal itu agar mingguan<br \/>\nplanetari kafir harus diperkenalkan hanya pada waktu yang tepat untuk sekte<br \/>\npenyembah matahari yang paling populer sepanjang masa untuk datang dan<br \/>\nmeninggikan hari Matahari sebagai sebuah hari yang berada di atas dan lebih<br \/>\nsuci dari hari yang lain. Tentunya ini bukan kecelakaan<sup>19<\/sup>.<\/p>\n<p class=\"indenttext\">Akibat dua faktor ini, mingguan Julian memulai<br \/>\nproses evolusi selama berabad-abad yang berakhir pada model mingguan seperti<br \/>\nyang dikenal saat ini. Mingguan tujuh hari planetari yang asli adalah bagian<br \/>\nketiga dan terakhir dari potongan teka-teki yang membuktikan bahwa hari Sabtu<br \/>\nbukanlah Sabat yang Alkitabiah, dan hari Minggu juga adalah bukan hari pertama dari<br \/>\nmingguan Alkitab. Transformasi ini memakan waktu beberapa ratus tahun. Franz<br \/>\nCumont, yang secara luas dianggap sebagai orang yang berpengaruh besar pada agama<br \/>\nMithrais, menghubungkan penerimaan mingguan tujuh hari oleh masyarakat Eropa dan<br \/>\nmempopularitaskan agama Mithrais di Roma yang kafir:<\/p>\n<p class=\"indenttext\">\n<p class=\"indenttext\">\u201cTidak diragukan lagi bahwa kisah penyebaran orang<br \/>\nIran [Persia] memiliki hubungan dengan penerimaan kekafiran secara umum,<br \/>\nterhadap mingguan yang hari Minggunya dijadikan sebagai hari yang suci.<br \/>\nNama-nama yang kita gunakan terhadap enam hari yang lain, tanpa mewaspadainya,<br \/>\nberasal dari apa yang digunakan oleh orang Mithrais pada waktu yang sama ketika<br \/>\nmereka mendapatkan banyak pengikut di provinsi Barat, dan tidak gegabah dalam<br \/>\nmembangun sebuah hubungan yang kebetulan antara kemenangan dan fenomena bersamaan<sup>20<\/sup>.<\/p>\n<p>Dalam ilmu perbintangan dan ilmu agama di antara<br \/>\norang-orang Yunani dan Romawi, Cumont lebih menekankan asal-usul kekafiran dan<br \/>\nmingguan tujuh hari yang baru saja diadopsi yang hari kudusnya adalah hari<br \/>\nMinggu:<\/p>\n<p class=\"indenttext\">&#8220;Pengutamaan yang diberikan lebih dahulu kepada<br \/>\ndies Solis [hari dewa Matahari] juga pasti memberikan kontribusi terhadap<br \/>\npengakuan umum hari Minggu sebagai hari libur. Ini terkait dengan fakta yang<br \/>\nlebih penting, yaitu, pengadopsian hari minggu oleh semua negara-negara Eropa<sup>21<\/sup>.<\/p>\n<p>Pengaruhnya yang besar ini bagi orang-orang Kristen<br \/>\nditemukan dalam kenyataan bahwa hari Minggu tidak bisa menjadi hari di mana<br \/>\nKristus bangkit dari antara orang mati, karena hari Minggu tidak ada dalam<br \/>\nkalender Julian pada zaman Kristus. Hari Sabtu juga tidak bisa menjadi Sabat<br \/>\nhari ketujuh yang Alkitabiah karena mingguan planetari kafir awalnya dimulai<br \/>\npada hari Sabtu.<\/p>\n<p>Di bawah ini adalah sebuah gambar kalender dinding<br \/>\nyang ditemukan di Permandian Titus (dibangun pada tahun 79-81 M), memberikan<br \/>\nbukti lebih jauh bahwa Sabat Alkitab tidak pernah dapat ditemukan dengan<br \/>\nmenggunakan kalender Julian. Pusat lingkaran berisi 12 tanda-tanda rasi<br \/>\nbintang, sesuai dengan 12 bulan dalam setahun. Angka Romawi di sebelah kiri dan<br \/>\nkanan menunjukkan hari-hari pada bulan itu. Di bagian atas kalender dinding ini<br \/>\nmuncul tujuh dewa planet kafir orang Roma.<\/p>\n<table style=\"padding-left: 10px; width: 304px\" align=\"right\" border=\"0\" cellpadding=\"5\" cellspacing=\"0\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><img decoding=\"async\" alt=\"Kalender tempel Romawi\" src=\"https:\/\/s3.amazonaws.com\/static.worldslastchance.org\/2025\/08\/image007.jpg\" border=\"0\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center; font-size: 12px\">Kalender tempel Romawi<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Hari Sabtu (atau dies Saturni &#8211; hari dewa Saturnus)<br \/>\nadalah hari pertama dalam minggu itu, bukan hari ketujuh. Sebagai dewa<br \/>\npertanian, dia dapat dilihat dalam posisi pentingnya sebagai yang terkemuka<br \/>\ndari semua dewa lain, dengan memegang lambang sabitnya. Selanjutnya, pada hari<br \/>\nkedua mingguan planetari kafir itu, terlihat dewa matahari dengan sinar cahaya<br \/>\nyang memancar dari kepalanya. Hari Minggu awalnya adalah hari kedua dari sebuah<br \/>\nmingguan planetari dan dikenal dengan nama dies Solis. Hari ketiga setiap minggu<br \/>\nadalah dies Lunae (hari Bulan \u2013 hari Senin). Dewi bulan ditampilkan mengenakan<br \/>\nbulan sabit bertanduk sebagai mahkota di kepalanya. Sisa dari dewa-dewa itu<br \/>\nsecara berurutan: dies Martis (hari Mars); dies Mercurii (hari Mercury); dies<br \/>\nJovis (hari Jupiter); dan dies Veneris (hari Venus), yang merupakan hari<br \/>\nketujuh setiap minggu<sup>22<\/sup>.<\/p>\n<p>Ketika penggunaan kalender Julian yang baru saja<br \/>\ndiadopsi mingguan planetari kafir ini menyebar ke Eropa Utara, nama-nama hari<br \/>\ndari hari-hari dies Martis sampai dies Veneris digantikan oleh dewa-dewa Teuton<sup>23<\/sup>.<br \/>\nHari Mars menjadi Hari Tiw (hari Selasa); Hari Merkurius menjadi Hari Woden (Hari<br \/>\nRabu); Hari Jupiter menjadi Hari Thor (hari Kamis); dan Hari Venus menjadi hari<br \/>\nFriga (hari Jumat)<sup>24<\/sup>. Pengaruh dari nama-nama hari astrologi kafir<br \/>\nmasih terlihat sampai hari ini. Bahasa-bahasa yang akarnya berasal dari bahasa<br \/>\nLatin, seperti bahasa Spanyol, mempertahankan nama astrologi untuk hari Senin<br \/>\nsampai hari Jumat, dengan pengaruh Kekristenan terlihat dalam kata-kata mereka<br \/>\nuntuk hari Minggu (Domingo, atau hari Tuhan) dan Sabtu (Sabado, atau Sabat.)<\/p>\n<p>Menurut Rabanus Maurus (tahun 776 &#8211; 856 M), Uskup<br \/>\nAgung Mainz, Jerman, Paus Sylvester I berusaha untuk mengubah nama-nama hari<br \/>\ndalam mingguan planetari agar sesuai dengan nama-nama hari dalam mingguan<br \/>\nAlkitab: Hari Pertama (feria pertama), Hari Kedua (feria kedua), dst<sup>25<\/sup>.<br \/>\nYang &#8220;Mulia&#8221;, Bede, (tahun 672 &#8211; 735 M), sarjana dan biarawan Inggris<br \/>\nyang terkenal, juga melaporkan upaya Sylvester untuk mengubah nama-nama kafir<br \/>\ndari hari-hari dalam sebuah minggu. Di dalam De Temporibus, dia menyatakan:<br \/>\n&#8220;Tetapi Sylvester yang suci memerintahkan hari-hari itu disebut Feria,<br \/>\nmenyebut hari pertama &#8216;[hari] Tuhan&#8217;; meniru orang Ibrani, yang menamakan [hari-hari<br \/>\nitu] hari pertama, hari kedua, dan begitu seterusnya&#8221;<sup>26<\/sup>. Namun,<br \/>\nnama-nama astrologi tersebut sudah terlalu tertanam. Walaupun terminologi resmi<br \/>\nGereja Katolik Roma tetap adalah Hari Tuhan, Hari Kedua, Hari Ketiga, dst, namun<br \/>\nsebagian besar negara-negara sudah terkait secara keseluruhan atau sebagian pada<br \/>\nnama-nama planetari untuk hari-hari itu.<\/p>\n<p class=\"indenttext\">Pengaruh astrologi sudah nyata dan bahkan lebih diperjelas<br \/>\ndi sekitar wilayah pinggiran Kekaisaran Romawi, tempat di<br \/>\nmana Kekristenan kemudian muncul. Inggris, Belanda, Breton, Welsh, dan Cornish,<br \/>\nyang merupakan satu-satunya bahasa di Eropa yang telah mengabadikan sampai<br \/>\nzaman sekarang nama-nama planetari asli dari ketujuh hari dalam sebuah minggu,<br \/>\nsemuanya sudah digunakan di daerah-daerah yang bebas dari pengaruh Kristen<br \/>\nselama abad pertama Masehi, ketika mingguan astrologi menyebar di seluruh wilayah<br \/>\nkerajaan<sup>27<\/sup>.<\/p>\n<p>&#8220;Gaya penamaan hari gerejawi pada sebuah minggu<br \/>\ntidak dipakai oleh negara manapun kecuali Portugis yang sendirian menggunakan<br \/>\nistilah Segunda Feria, dst&#8221;<sup>28<\/sup>.<\/p>\n<p>Fakta bahwa baik kalender Julian maupun mingguan<br \/>\nplanetari kafir telah diterima untuk digunakan oleh orang-orang Kristen,<br \/>\nmengungkapkan sebuah penggabungan dari agama Kristen dengan agama berhala yang<br \/>\nrasul Paulus peringatkan ketika dia menulis:<\/p>\n<p class=\"indenttext\">Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai<br \/>\nbekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan<sup>29<\/sup>. Kalau yang<br \/>\nmenahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan<br \/>\nmenyatakan dirinya, tetapi Yahushua akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan<br \/>\nakan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. Kedatangan si pendurhaka itu<br \/>\nadalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib,<br \/>\ntanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat<br \/>\nterhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan<br \/>\nmengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Yahuwah<br \/>\nmendatangkan kesesatan<sup>30<\/sup> atas mereka, yang menyebabkan mereka<br \/>\npercaya akan dusta<sup>31<\/sup>.<\/p>\n<p>Mingguan planetari kafir, seperti kalender Julian<br \/>\nyang mengadopsinya, bersumber dari kekafiran. Fakta sejarah menunjukkan bahwa<br \/>\nbaik Sabat Alkitab maupun Hari Pertama Alkitab tidak dapat ditemukan dengan<br \/>\nmenggunakan kalender moderen. Jika penting untuk beribadah pada hari khusus, maka<br \/>\nadalah juga penting untuk mengetahui mana kalender yang harus digunakan dan<br \/>\nkapan perubahan penanggalan itu terjadi. Harus selalu diingat bahwa waktu<br \/>\nseseorang beribadah mengungkapkan siapa yang kita sembah: Eloah Sang Pencipta,<br \/>\natau dewa dunia ini yang merupakan pemimpin pemberontakan melawan Sang<br \/>\nPencipta. Setiap Pribadi yang berkuasa\/dewa memiliki kalender masing-masing yang<br \/>\ndigunakan untuk beribadah kepada Pribadi yang berkuasa\/dewa itu. Hari Sabtu dan<br \/>\nhari Minggu (serta hari Jumat) adalah hari kafir.<\/p>\n<p>Kalender mana yang akan anda gunakan untuk menetapkan<br \/>\nhari ibadah anda?<\/p>\n<hr style=\"width: 33%\" align=\"left\">\n<p><font face=\"Georgia\" size=\"3\">Artikel<br \/>\nTerkait:<\/font><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"\/yahuwahs-calendar\/perubahan-kekristenan-menjadi-kafir.html\">Perubahan Kekristenan<br \/>\nMenjadi kafir<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Lihat juga: <a href=\"\/view-video\/1540\/sejarah-kalender-julian.html\">Sejarah Kalender Julian<\/a> (Video)<\/p>\n<hr style=\"width: 100%\">\n<p><sup>1 <\/sup>Interklasi: memasukkan sebuah hari atau bulan tambahan<br \/>\nuntuk menyelaraskan tahun lunar yang pendek dengan tahun matahari yang lebih panjang.<br \/>\nKarena interkalasi dianggap &#8220;tidak beruntung&#8221;, selama Perang Punic Kedua<br \/>\n(tahun 218 &#8211; 201 SM) para imam ragu-ragu untuk melakukan perubahan, sehingga membuat<br \/>\nkalender sedikit meleset dari musim.<\/p>\n<p><sup>2<\/sup> Julius Caesar telah terpilih sebagai pontifex<br \/>\nmaximus pada tahun 63 SM (James Evans, &#8220;Calendars and Time<br \/>\nReckoning&#8221;, The History and Practice of Ancient Astronomy, Oxford<br \/>\nUniversity Press, 1998, hal. 165.)<\/p>\n<p><sup>3<\/sup> &#8220;Pontifex Maximus&#8221; sekarang adalah sebuah<br \/>\ngelar yang diberikan secara khusus kepada Paus. Sebuah gelar yang sangat tepat karena<br \/>\nkalender Gregorian sekarang digunakan adalah baik oleh orang-orang kafir maupun<br \/>\noleh paus, yang didasarkan pada kalender Julian kafir dan dimodifikasi serta<br \/>\ndinamai dengan paus.<\/p>\n<p><sup>4 <\/sup>Dalam rangka mengumukan sebuah interkalasi, maximus<br \/>\npontifex harus berada di Roma pada bulan Februari. Karena Julius Caesar<br \/>\nterlibat dalam berbagai perang, hanya ada satu interkalasi dinyatakan sejak dia<br \/>\nmenjabat. Dalam sebuah surat kepada Atticus, tanggal 13 Februari tahun 50 SM,<br \/>\nCicero mengeluh karena dia masih belum tahu apakah akan ada sebuah interkalasi<br \/>\npada akhir bulan ini atau tidak.<\/p>\n<p><sup>5<\/sup> &#8220;The Julian Calendar,&#8221; Encyclop\u00e6dia<br \/>\nBritannica.<\/p>\n<p><sup>6<\/sup> S.d.a., Penekanan diberikan.<\/p>\n<p><sup>7<\/sup> A Dictionary of Greek and Roman Antiquities,<br \/>\nWilliam Smith LL.D., William Wayte, M.A., George E. Marindin, M.A., eds.,<br \/>\nLondon, William Clowes and Sons, Ltd., 1890, Vol. I, hal. 344. didigitalkan<br \/>\noleh Google.<\/p>\n<p><sup>8<\/sup> Dugaan ini tidak disebarkan oleh para sarjana. Orang-orang<br \/>\nYahudi mengakui bahwa kalender rabbi yang sekarang digunakan bukanlah kalender<br \/>\nMusa, dan para sarjana Kristen mengakui bahwa kalender Alkitabiah bekerja<br \/>\ndengan cara yang berbeda. Beberapa orang juga mengakui bahwa jika Sabat hari<br \/>\nketujuh dihitung pada kalender Alkitabiah maka itu tidak akan bertepatan dengan<br \/>\nhari Sabtu.<\/p>\n<p><sup>9<\/sup> J. P. V. D. Balsdon, Life and Leisure in Ancient<br \/>\nRome, (New York: McGraw-Hill, 1969) hal. 59; P. Huvelin, Essai Historique sur<br \/>\nle Droit des Marche\u00e9s et des Foires (Paris: Aruthur Rousseau, 1897), hal. 87;<br \/>\nOvid, Fasti (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1951), hal. 6; Alan E.<br \/>\nSamuel, Greek and Roman Chronology (Munich: C. H. Beck&#8217;sche Verlagbuchhandlung,<br \/>\n1972), hal. 154.<\/p>\n<p><sup>10<\/sup> Eviatar Zerubavel, The Seven Day Circle: The<br \/>\nHistory and Meaning of the Week, (University of Chicago Press, 1985), hal. 45.<\/p>\n<p><sup>11<\/sup> Zerubavel, op.cit.,158; Balsdon, op.cit., hal. 60;<br \/>\nFrancis H. Colson, The Week, (Cambridge, England: Cambridge University Press,<br \/>\n1926), hal. 4; W. Warde Fowler, The Roman Festivals of the Period of the<br \/>\nRepublic (Port Washington, New York: Kennikat Press, 1969), hal. 8; P. Huvelin,<br \/>\nop.cit., hal. 88; Alan E. Samuel, op.cit., hal. 153-154; Ovid, op.cit.; Hutton<br \/>\nWebster, Rest Days, (New York: MacMillan) hal. 123; W. E. van Wijk, Le Nombre<br \/>\nd&#8217;Or (The Hague: Martinus Nijhoff, 1935), hal. 24-25.<\/p>\n<p><sup>12<\/sup> Kalend\u00e6: hari pertama pada setiap bulan.<\/p>\n<p><sup>13<\/sup> Palazzo Massimo Alle Terme, ed. Adriano La Regina,<br \/>\n1998.<\/p>\n<p><sup>14<\/sup> Untuk informasi tambahan, lihat The Calendar of the<br \/>\nRoman Republic by A. K. Michels (Princeton, 1957).<\/p>\n<p><sup>15<\/sup> Kaisar Agustus, Kaisar Romawi pertama, namanya disebut<br \/>\ndi dalam Alkitab. Pungutan pajaknya yang membuat Yusuf dan Maria pergi ke<br \/>\nBetlehem tepat pada waktu kelahiran Kristus. (Lihat Lukas 2: 1). Karena metode<br \/>\nRomawi menghitung secara inklusif, tahun kabisat yang awalnya diselingi setiap<br \/>\ntiga tahun. Untuk menyesuaikan waktu tambahan, Kaisar Agustus memutuskan bahwa<br \/>\ntidak akan ada tahun yang akan mendapat interklasi selama periode tahun 8 SM sampai<br \/>\ndengan tahun 8 M. Bulan kedelapan berganti nama menjadi Agustus untuk menghormatinya.<\/p>\n<p><sup>16<\/sup> Zerubavel, op.cit., Hlm. 46; Huvelin, op.cit., Hlm.<br \/>\n97-98.<\/p>\n<p><sup>17<\/sup> R. L. Odom, Sunday in Roman Paganism, (TEACH<br \/>\nServices, Inc., 2003; original copyright: Review and Herald Publishing<br \/>\nAssociation, 1944), hal. 157.<\/p>\n<p><sup>18<\/sup> Banyak elemen yang paling penting dari Kekristenan<br \/>\nmemiliki kesamaan dengan agama Mithrais. Kekristenan telah biasa disebut versi ciplakan<br \/>\ndari agama Mithrais. Mereka berusaha untuk mendiskreditkan Kekristenan dengan<br \/>\nsering menunjukkan kesamaan antara kedua agama ini.<\/p>\n<p><sup>19<\/sup> Odom, op.cit.<\/p>\n<p><sup>20<\/sup> Franz Cumont, Textes et Monumnets Figures Relatifs<br \/>\naux Mysteres de Mithra, Vol. I, hal. 112, seperti yang dikutip dalam sumber<br \/>\nyang sama, hal. 156.<\/p>\n<p><sup>21<\/sup> Halaman 163<\/p>\n<p><sup>22<\/sup> &#8220;Astrologi, ilmu perbintangan yang telah<br \/>\ndijadikan kafir, menandai waktu selama 24 jam sehari untuk satu dewa planet menurut<br \/>\nurutan posisi mereka yang seharusnya di atas bumi&#8230; Oleh karena itu, jika<br \/>\nSaturnus harus memiliki ketuhanan pada jam pertama di hari itu, akan disebut<br \/>\nhari Saturnus&#8230; Karena jam terakhir dari hari Saturnus ditandai untuk Mars,<br \/>\njam pertama pada hari berikutnya akan menjadi milik Matahari, yang menjadi dewa<br \/>\nplanet berikutnya dalam urutan itu. Hal ini membuat Matahari menjadi penguasa<br \/>\nhari itu, sehingga disebut &#8216;hari Matahari (hari Minggu)&#8221; R. L. Odom, How<br \/>\nDid Sunday Get Its Name? (Nashville, Tennessee: Southern Publishing Assoc.,<br \/>\n1972), hal. 10 &amp; 11. S.d.a., Hlm. 5.<\/p>\n<p><sup>23<\/sup> S.d.a., Hlm. 5.<\/p>\n<p><sup>24<\/sup> J. Bosworth and T. N. Toller, &#8220;Frig-d\u00e6g&#8221;,<br \/>\nAn Anglo-Saxon Dictionary, 1898, hal. 337, disediakan oleh the Germanic Lexicon<br \/>\nProject; Odom, How Did Sunday Get Its Name? op.cit. Lihat juga<br \/>\n&#8220;Friday&#8221; in Webster&#8217;s New Universal Unabridged Dictionary, edition<br \/>\nke-2, 1983.<\/p>\n<p><sup>25<\/sup> Lihat Rabanus Maurus, De Clericorum Institratione,<br \/>\nBook 2, ch. 46, in J. P. Migne, Patrologia Latina.<\/p>\n<p><sup>26<\/sup> Lihat Bede, Patrologia Latina, Vol. 90, op. cit.<\/p>\n<p><sup>27<\/sup> Zerubavel, op.cit., hal. 24.<\/p>\n<p><sup>28<\/sup> &#8220;Feria&#8221;, Catholic Encyclopedia, Lihat<br \/>\nVol. 6 hal. 43, atau www.newadvent.org.<\/p>\n<p><sup>29<\/sup> &#8220;letteth&#8221;: # 2722 &#8211; menekan, memiliki<br \/>\natau menguasai; &#8220;Kata ini berarti &#8216;memegang teguh&#8217;&#8230; Orang yang tidak<br \/>\nbenar yang menahan penyebaran kebenaran dengan kelaliman mereka&#8221; (The New<br \/>\nStrong&#8217;s Expanded Dictionary, Thomas Nelson Publ. 2001). Ini adalah kata yang<br \/>\ntepat untuk menyampaikan apa yang telah terjadi karena menggabungkan agama<br \/>\nberhala dengan agama Kristen.<\/p>\n<p><sup>30<\/sup> (# 2929): membagi atau memisahkan; membuat<br \/>\nperbedaan antara atau menjatuhkan hukuman atas. &#8220;Menjatuhkan hukuman&#8221;<br \/>\n(s.d.a).<\/p>\n<p><sup>31<\/sup> II Tes. 2: 7-11<\/p>\n","protected":false},"featured_media":215012,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"class_list":["post-108289","wlc-article","type-wlc-article","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","wlc-article-category-kalender-yahs","wlc-content-directory-the-fallacy-of-a-continuous-weekly-cycle"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan - Worlds Last Chance<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan - Worlds Last Chance\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Umat Kristen yang beribadah pada hari Minggu melandaskan pelaksanaan ini pada keyakinan bahwa Kristus bangkit dari kubur pada hari Minggu. Orang-orang Yahudi dan umat Kristen yang beribadah pada hari Sabtu melakukannya karena itu adalah hari ketujuh dalam sebuah minggu. Kedua belah pihak mendasarkan keyakinan mereka, dan kemudian praktek mereka, pada sebuah dugaan. Dugaannya adalah bahwa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Worlds Last Chance\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-08-20T15:22:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/s3.amazonaws.com\/static.worldslastchance.org\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"250\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"159\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"15 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/\",\"url\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/\",\"name\":\"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan - Worlds Last Chance\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/stg-media.worldslastchance.com\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg\",\"datePublished\":\"2012-12-03T12:12:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-08-20T15:22:42+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/stg-media.worldslastchance.com\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/stg-media.worldslastchance.com\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg\",\"width\":250,\"height\":159},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Articles\",\"item\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/#website\",\"url\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/\",\"name\":\"Worlds Last Chance\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan - Worlds Last Chance","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan - Worlds Last Chance","og_description":"Umat Kristen yang beribadah pada hari Minggu melandaskan pelaksanaan ini pada keyakinan bahwa Kristus bangkit dari kubur pada hari Minggu. Orang-orang Yahudi dan umat Kristen yang beribadah pada hari Sabtu melakukannya karena itu adalah hari ketujuh dalam sebuah minggu. Kedua belah pihak mendasarkan keyakinan mereka, dan kemudian praktek mereka, pada sebuah dugaan. Dugaannya adalah bahwa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/","og_site_name":"Worlds Last Chance","article_modified_time":"2025-08-20T15:22:42+00:00","og_image":[{"width":250,"height":159,"url":"https:\/\/s3.amazonaws.com\/static.worldslastchance.org\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"15 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/","url":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/","name":"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan - Worlds Last Chance","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/stg-media.worldslastchance.com\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg","datePublished":"2012-12-03T12:12:00+00:00","dateModified":"2025-08-20T15:22:42+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#primaryimage","url":"https:\/\/stg-media.worldslastchance.com\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg","contentUrl":"https:\/\/stg-media.worldslastchance.com\/2025\/08\/modern-seven-day-week-history-of-a-lie-poster-bahasa.jpg","width":250,"height":159},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/yah-s-calendar\/the-modern-seven-day-week-exploring-the-history-of-a-lie\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Articles","item":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/articles\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Mingguan Tujuh Hari Moderen: Menelusuri Sejarah sebuah Kebohongan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/#website","url":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/","name":"Worlds Last Chance","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/nl\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wlc-article\/108289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/wlc-article"}],"about":[{"href":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/wlc-article"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108289"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215012"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staging.worldslastchance.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}